Tampilkan postingan dengan label cerpen kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen kehidupan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 April 2012

Rumah Bambu


Beberapa batang rokok telah habis dihisapnya, entah mengapa batang rokok yang dihisapnya sekarang  masih saja kuat melekat di jarinya. Tubuhnya masih saja rebah di kursi kayu jati yang renta membujur di ruang tamu  yang kumuh. Meski sinar mentari telah menghiasi wajah pagi yang kuning menyala, lantaran tersapu kemarau yang menerjang kotanya. Namun dia masih belum beranjak untuk memunguti kehidupanya yang tercecer di roda jaman. Padahal semburat sinar kuning mentari beberapa diantaranya telah menerobos celah dinding bambu yang berlubang, Sementara itu truk pengangkut pasir terus lalu lalang di depan rumahnya

Asap rokoknya masih saja mengepul menutupi wajahnya yang terlihat galau., segalau dunia yang masih saja liar menerima kehidupanya. Entah kehidupan macam apa yang pernah dia jalani, namun tetap saja hanya peluh dan debu yang menebari di sekujur tubuhnya. Gambaran hidup yang dia rengkuh, tak ubahnya seperti gambaran asap rokok, yang tidak pernah memilih gambaran yang pasti. Selalu saja berubah dihempas angin kemarau Gunung Merapi.

Sebentar sebentar terdengar lengkingan batuk panjang istrinya yang telah mongering tubuhnya, lantaran penyakit menahun yang  tak kunjung sembuh. Penghasilan dia yang pas-pasan hanya cukup untuk makan dan biaya sekolah ke tiga anaknya. Sumitropun hanya mendenguskan nafas panjang, saat dia mengadukan kepada sanubarinya sendiri tentang kehidupannya. Cuaca yang terus menerus dibarengi hujan meski di tengah kemarau, membuatnya tidak berdaya untuk menambang pasir di Kali Krasak. Musim yang tiada menyodorkan kepastian, menyodorkan pula kehidupanya yang kian terhimpit.

“Tiada satupun manusia yang mampu mengatur cuaca, Mas !” nyaring suara  Hartini menyeruak memecahkan lamunan Sumitro yang masih menggantung tentang rencananya ke Malaysia menmgadu nasib.

“Makanya, Tin, aku sudah bosan menjadi penambang pasir yang tiada pernah memberi harapan. Aku tetap ingin kita mengambil resiko, daripada seumur hidup hanya merajut  hidup yang nestapa”.Sumitro kini menjadi lebih bergairah untuk mencoba menantang sebuah kehidupan yang menurut dia adalah suatu misteri yang tiada pernah mampu dipecahkan.

“Mas, kita mengarungi kehidupan ini hanya dengan keberanian, tanpa modal apapun, itu juga sudah penuh resiko. Lantas resiko apa lagi yang kamu inginkan”

“Mestinya kita harus lebih berani lagi mengambil resiko, sudah kepalang tanggung kita mengarungi hidup yang penuh gelombang besar. Sementara itu kitapun tidak pernah merasa aman untuk berlabuh di kehidupan yang penuh bahagia. Kamu tidak menginginkan itu ?”.

Hartini hanya menghiaskan wajahnya dengan senyuman tipisnya, sebuah senyuman yang menjadi awal sebuah hati  yang kekar milik Sumitro berhasil roboh dan mendekam dalam pelukan wanita yang santun ini. Hartini kini lebih mendekatkan duduknya di samping suamnya sambil mengaduksedikit gula dalam kopi pahit kesukaan suaminya.

“Wanita mana yang tidak ingin bahagia bersanding denga harta yang cukup, kehidupan yang tentram. Tapi coba Mas renungkan, kehidupan yang kita miliki sudah cukup bila kita tahu persis diri kita masing-masing, Kita sudah dikarunia tiga putra dan mereka sehat dan pandai. Kita sudah memiliki rumah meski hanya gubug beratap seng berdiding bambu .Mas, apa yang kurang dari kita ?”.

“Aku heran, Tin ?”
“Heran tentang, apa Mas ?”.
“Biasanya yang berkata seperti itu, adalah suami ketika istrinya  merajuk menuntut dunia untuk menghiasi hidupnya., Tapi malah kamu yang bertutur seperti itu. Bagi aku kehidupan seperti ini belum puas, aku ingin kelihatan kamu lebih cantik dengan dandanan yang lebih baik, lantas aku pengin juga menyekolahkan anaku ke kota, agar mereka mengenyam universitas, jangan seperti bapaknya yang hanya sampai kelas 2 SMP”
“Bukan hanya kamu, Mas !, akupun ingin seperti itu ?”
“Lantas mengapa kamu tidak setuju aku ke Malaysia ?”
“ Kalau itu membuat kita lebih bahagia, kenapa tidak Mas ?”
“ Kalau gitu, kamu setuju?”
“Ya, setuju, Mas ?”
“Terus akan kamu lepas kapan tanah itu, mumpung  Pak Ranto berani membelinya !”
“Itulah yang aku tidak setuju, Mas. Tanah itu satu satunya peninggalan orang tuaku. Lagian Mas Hartono juga masih punya hak , bukan aku saja”
“Ah..itu gampang, Tin. Kalau aku sudah di Malaysia, kan bisa aku ganti Mas Har dengan gajiku kerja di sana
“Maaf, Mas, aku tidak setuju,memang Mas Hartono tidak pernah menuntut hak itu. Tapi dia tidak setuju kalau tanah itu dijual.
“Tertus apa artinya tanah itu untuk kehidupan kita, Tin ?”
“Mas Har minta supaya tanah itu dikelola untuk usaha atau untuk ditanami apa saja, dia tidak akan menuntut hak.Tapi dia tidak akan melepas tanah itu untuk dijual”
“Kamu memang istriku yang tidak mengerti cita-cita seorang suami.”
“Mas Sumitro,apa ke Malaysia menjanjikan segalanya ?. Tetap saja manusia tidak lepas dari KodratNYA. Aku takut Mas, keberangkatan Mas ke Malaysia justru nambah kesengsaraan kita, Apalagi dengan menjual tanah kita satu-satunya”
“Terus aku harus bagaimana, apa salah bila aku berhasil membahagiaan keluargaku, termasuk kamu, Hartini !. Aku berani bersumpah, aku tidak akan jatuh ke pelukan wanita lain, kamu sudah hapal, persis wataku..kan ?”
“Bukan masalah itu,..Mas ?”
“Masalah apalagi?”
“Kita manfaatkan saja tanah itu. Selama ini kita kan belum pernah bicara masalah ini”
“Aduuuuh, setengah mati kan Tin.Mau ditanami apa ?.Musim seperti ini tidak bakalan bisa diharapkan”
“Mas, aku diberitahu Mas Koco, temenmu di Kali Krasak”
Ada apa ?
“Dia sanggup menyediakan bibit ikan lele, dia punya relasi di Magelang. Tentu kita bisa beli, orang harganya murah. Kebetulan tanah kita bisa diairi sepanjang tahun, cocok untuk beternak lele”
“Terus mau di juual kemana lele-lele itu”
“Hualah..Mas. Setiap rumah makan pasti menyediakan menu lele kan Mas ?”
“Ah, itu terlalu beresiko, aku nggak punya modal”
‘Kebetulan Mas, aku  bisa menyisihkan modal meski hanya sedikit. Tapi untuk menggali tanah itu,harus pakai tenagamu sendiri lhoMas,bisa kan Mas “

Belum sempat Sumitro memberi jawaban, sebuah pelukan kecil dan ciuman mesra telah disodorkan istri tercintanya. Dilekatkanya bibir istrinya dengan bibir pria yang sedang diliputi kegalauan. Kini pelukan itu telah direnggangkan oleh Hartini, diganti dengan bisikan penuh pesona
“Tolong ya Mas, kali ini aku dibantu, aku pengin lebih bahagia bersamamu”
Sumitropun tak mampu lagi memberi jawaban, yang ada hanya membalas dengan ciuman yang lebih hangat dan mesra, sambil membisikan di telinga istrinya “Kamulah rembulan di atap rumah bambu ini. Aku berjanji tidak akan ke Malaysia demi kamu “.

Pesta Petir


Bersahutan petir memerahkan langit yang berjelaga, sebentar-sebentar terdengar suara  dentuman seribu meriam yang dinyalakan oleh malaikat malaikat penjaga langit. Merahnya bara api kadang kala hanya terasa sepenggalah jaraknya dengan orang-orang yang memilih bersembunyi di bawah selimut. Pekatnya malam betul betul mengungkung mereka semua, lantaran kesetiaan angin malam yang mengembara dan ikut sejenak mengambil nafas menemani tidur mereka semua yang mendengkur.

Di tengah mimpi yang mereka rajut, mereka semua sementara melupakan, bahwa acapkali pesta petir akhir akhir ini sering terjadi justru di tengah musim kemarau. Itulah yang membuat mereka belum siap untuk menyemai padi ataupun tanaman palawija di tengah cuaca yang tidak mereka kenal. Sebagian lagi lebih memilih mengikat perahunya di muara sungai, ketimbang di lahap ganasnya ombak Pantai Selatan.

Sepenggal hidup lagi harus mereka tanggalkan, lantaran alam yang sedang tidak lagi bersahabat. Bertanam padi Lokonpun mereka tangguhkan, lantaran hujan masih saja menerpa di tengah musim kemarau.  Bertanam padi apalagi, di kehidupan mereka yang dipertaruhkan pada tegalan tadah hujan, hujan belum cukup utuk menumbuhkan padi yang manja dengan air hujan. Di tengah sketsa hidup yang pelik, hanyalah putus asa yang mereka usung. Apa daya hujan dengan pesta petir telah merenggut bumi ini, maka perahu, jaring,  dan apapun yang mampu menyambung penghidupan merekapun kini bersandar.

Sang fajarpun kini menyergap mereka, meski sebagian masih berlindung di bawah selimut kumal. Namun sebagian lainnya masih menyambut hasrat membenahi bilah kehidupan yang tiada seberapa kokohnya di sekitar Goa Karang Bolong yang tandus. Meski tegalanya kini telah ditumbuhi ilalang kegetiran, namun mereka masih menyisakan tanaman singkong dan sayuran ala kadarnya untuk sarapan pagi ini.

Sang surya masih bersitegang dengan awan gelap, yang terus saja menghalangi pandanganya. Sehingga Bumi Karang Bolongpun masih dirundung kegelapan, jangankan kehidupan para petani, burung camarpun masih enggan untuk mencari mangsa. Debur ombak Pantai Karang Bolong membuat burung burung camar itu ketakutan. Hanya Suwito saja yang menapaki pagi ini untuk sekedar mencari angin di wajah pagi yang belum bersahabat itu. Sementara dari jauh masih sering terdengar suara gemuruh petir dari kejauhan,  pertanda hujanpun masih menginginkan kehadiranya kembali.

Sementara Suwitopun tahu, bahwa tegalan miliknya sudah tidak mampu memberinya penghidupan keluarganya. Namun kegetiran hatinya yang membuat dia sepagi ini berselimut embun untuk mencoba untuk menjaring angin pagi,  barangkali mampu membalut kegetiran hatinya. Setelah semalam suara nyaring istrinya mengalahkan pesta petir, mengutuk kehidupan mereka yang didera nestapa tiada berujung.

“Sudahlah  Pak, apa yang kita tunggu lagi. Kita kan tahu bahwa sudah banyak tetangga kita yang berangkat ke Bandung, meskipun di sana hanya bekerja menjadi pengemis. Daripada mengandalkan kacang hijau, kedelai dan padi. Nyatanya tetangga kita juga bisa hidup makmur”

“Dari mana kamu tahu kalau mereka mengemis di Bandung ?”. Apa dari mulut mereka sendiri ?”.

“Ya tidak, Pak !. Mereka memang tidak mau terus terang”

“Ya, terus darimana kamu tahu mereka mengemis ?”

“Aku tahu dari, Pak Lurah”

“Mengapa !, mereka tidak mau terus terang ?. Lantaran mereka malu dengan pekerjaan hina itu. Mereka selalu mengaku kalau mereka bekerja di kantor, tapi nyatanya ?. Apa kamu mau aku seperti itu ?”.

“Tapi daripada kita hidup seperti ini. Pak !,  untuk makan besok saja aku sudah tidak punya apa apa lagi. Apa lagi untuk bayar SPP anak anak kita, aku tahu mengemis adalah perbuatan yang tidak kamu sukai, tapi apa anak anak harus berhenti sekolah, apa mereka besok tidak sarapan?”

“Sudahlah, aku yakin besok Tuhan masih memberi kita rejeki. Kalau kau sudah tidak punya beras, sementara ambil saja singkong yang ada di belakang. Besok aku akan semampuku mencari tambahan. Percayalah pada Yang Mengatur Rejeki, kamu harus yakin!”.

Sarung yang lusuh yang melipat di leher Suwito, kini direntangkan hingga menutupi seluruh tubuhnya. Sebentar sebentar Yani putri bungsu pasangan petani itu terjaga dan menangis mencari Ibunya yang lepas dari pelukanya. Suwito kini bersama dengan seluruh warga Karang Bolong mulai merajut mimpi. Sama sekali di wajahnya tidak terdapat guratan kesedihan atau panik, karena Suwito yakin setiap kehidupan pasti akan menjemput siapa saja yang mau mengaisnya. Maka diapun sangat benci dengan tekad teman temanya satu desa yang memilih mengemis di Bandung demi sebilah penghidupan.

Pematang menuju tegalanyapun kini ikut sunyi, tiada satupun tetangganya yang berniat membenahi barang sejengkal tegalan mereka yang terendam air. Padahal tanaman jagung kuning yang ditanam pada bulan bulan lalu kini tenggelam banjir. Bukankah daunya yang masih segar bisa dimanfaatkan untuk pakan sapi dan kambing, Mengapa mereka membiarkan saja ataukah mereka menjadi mudah putus asa. Demikian bisik hati Suwito, yang menyesalkan perilaku tetangganya yang masih larut dalam dinginya pagi, lantaran dipagut hujan yang terus menerus.

Batas pandang Suwito menyapu semua sudut tegalan yang tergenag air dari sudut satu ke sudut lainnya. Bagaikan lautan luas yang tiada bertepi, perasaan getir kini menyelinap alam jantung hatinya. Inilah yang menyebabkan sebagian besar masyarakat Karang Bolong memilih menjadi pengemis di Bandung. Tanpa secuilpun upaya menyingsingkan lengan guna menepis tegalanya yang terus diterjang banjir, sementara tanah pertanian mereka menjadi kering kerontang ditikam kemarau panjang.

Sejuta bayangan dengan sayap yang terbentang kini memburu hatinya untuk segera menemukan jalan keluar mengatasi kepelikan hidup saudara saudaranya itu. Bayangan dalam hati itulah yang memaksa Suwito berjalan menuju kantor kelurahan guna menemui Marto Suseno sang Lurah Karang Bolong. Meski gagasan itu akan terkulai tak berdaya di gilas birokrasi. Namun karena tekadnya Suwito tidak mau mengikuti jejak saudara saudaranya mengemis ke Bandung,  maka gagasan si kecil itupun akan diperjuangkan mati matian.
***
“Wito !, saluran irigasi di dusun Sibayan telah ada sejak jaman Belanda dulu, namun karena petani malas merawatnya, akhirnya kini telah tertimbun tanah. Apa urusanmu dengan saluran itu ”.

“Aku tidak punya urursan dengan saluran itu, Pak Lurah !. Tapi rakyatlah yang membutuhkan demi kehidupan  mereka ?”

“Dari pertama aku menjabat lurah, aku sudah mengajak warga untuk merehabilitasi saluran tersebut. Aku tahu Wito, sebagian besar wargaku banyak yang mengemis di Bandung,karena tanah mereka tidak mampu lagi menopang kehidupan. Mereka malah lebih senang mengemis di kota besar”

“Aku heran, Pak Lurah !. Mengapa mereka senang mengemis ketimbang bertani. Padahal apabila mereka mau bekerja bakti merehabilitasi saluran tersebut, mereka akan mampu bertahan hidup di Karang Bolong”

“Penghasilan dari mengemis jauh lebih banyak dari bertani. Rata rata orang kota bisa memberi mereka lima ratus sampai seribu rupiah. Coba bayangkan berapa penghasilan mereka per hari?”

“Makanya, Pak Lurah !. Aku akan memimpin seluruh warga untuk bekerja bakti memperbaiki saluran itu. Sampai kapan, entahlah. Yamg pasti saluran itu harus selesai secepatnya “

“Itu gagasan yang bagus, Wito !. Setiap tahun aku mengusulkan dana ke atas, tetapi hingga saat ini belum turun “

“Kalau menunggu bantuan dari atas, sampai kapan kita akan mengatasi masalah ini. Lebih baik aku akan mengumpulkan teman teman untuk mrnggarapnya, setelah pekerjaan di sawah selesai. Kalau semua petani bergabung saya kira nggak akan lama selesai”

“Baguslah kalau begitu Wito, segeralah kamu kerjakan.Oh ya hari ini beras raskin sudah datang di kelurahan. Ambilah jatahmu”

Matahari telah mulai meminang wajah bumi. Jalan jalan desa yang berbatu telah mulai rame,  lalu lalang masyarakat petani di pasar Tambak Mulya mulai kentara. Mereka mulai menjual dan membeli sayur serta kebutuhan hidup lainnya. Demikian juga wajah Suminah istri Suwito yang telah ceria, kala menerima beras raskin jatahnya dan ditambah jatah dari Pak Lurah. Memang itulah Keadilan Sang Pencipta, yang telah menebarkan rejeki kepada siapapun yang selalu tawakal dan pasrah kepadaNYA.

Gaung bersambut, semua petani desa itupun sudah mendengar rencana Suwito untuk merehabilitasi saluran irigasi yang melintang tegalan mereka. Saluran itu diharapkan oleh masyarakat petani gurem mampu memberikan secercah harapan. Lantaran mereka hanya mampu mengadu nasib dengan bertanam musim. Dengan saluran itu nantinya, meski telah hadir pesta petir dengan hujan yang lebatpun tidak menepiskan mereka untuk bertanam palawija, jeruk, kedelai bahkan padi. Inilah suatu kehidupan sederhana yang mampu diusung oleh Suwito dan banyak keluarga lainya.

Peraduan Milik Kita


Berkali kali Mahendra mendenguskan nafas panjang sambil mengkerutkan alisnya dan terus mengganti beberapa kali  chanel televisinya. Setelah yang dia dapatkan hanya tayangan anarkis yang dilakukan pendemo dari beberapa kalangan. Lengkap dengan penuturan reporternya tentang kerugian harta benda dan tak jarang korban luka luka yang diakibatkan anarkisme itu. Tak urung juga tayangan tentang pertikaian petinggi negeri ini, yang justru ikut mempengaruhi meradangnya rakyat yang telah diliputi oleh berbagai macam kesulitan hidup. Kini ulahnya bertambah tidak dapat dimengerti, kala mulutnya mulai mencaci maki entah di arahkan kemana, setelah sebuah tayangan melaporkan tentang kenaikan harga untuk barang apa saja.

Sementara istrinya sibuk di dapur menanak nasi dan menghangatkan sayur asem dan ikan asin, sebuah menu yang menjadi kesukaan Mahendra dan anak istrinya. Menu sehari hari mereka semua didapatkan hanya dari sayur sayur yang dipetik dari kebun belakang rumah. Namun ikan asinya memang harus dibeli dari pasar, itupun setelah Rakhmawati menjual beberapa telur ayam kampung. Terkadang Mahendra sengaja menyembelih ayam kampungnya, agar anak anaknya tidak bosan dengan menu sayur dari kebon belakang rumah.

Sang istrinyapun hanya tersenyum mendengar cacian suaminya tanpa arah dan tujuan yang jelas. Terkadang pula suaminya bersikap sok piawai dalam beberapa hal. Sehubungan dengan beberapa ulah anak bangsa  yang ada ada saja, yang mampu menghangatkan atmosfer Negara ini dan menampilkan sikap yang tak sepadan dengan budaya  asli masyarakat yang melingkungi mereka.

“Huuuh..negara kita ini ibarat rumah tak jelas menghadap ke mana. Mengapa banyak  masyarakat dan oknum pejabat yang gampang naik pitam “. Tanpa meminta persetujuan dan pedapat istrinya,  berkali kali Mahendra melontarkan sebuah caci maki. Sementara itu istrinya segera menyajikan makan malam mereka semua. Di depan televise mereka bersama sama menikmati hidangan hangat dan sederhana,  namun sama sekali tak pernah mereka keluhkan.

“Bisa bisa Negara kita hanya tinggal nama bila terus terusan tercampak dengan berbagai tindak anarkis !”. Sambil melahap nasi hangat Mahendra terus saja berceloteh mirip jurkam parpol di masa kampanye.

“Ya, biar saja, Pak. Asal kita pandai pandai menjaga sikap , jangan seperti mereka “

“Ya, nggak gitu to, Wat. Mereka seenaknya membuat ulah, sehingga membuat resah wong cilik seprti  kita. Kalau sudah seperti ini  banyak pedagang besar menaikan harga barang barang. Coba yang rugi siapa?, mereka para pemimpin apakah merasakan seperti ini ?”.

“Hmmm….memang repot kalau sudah seperti ini, Pak !. Tapi bagai kita yang penting pandai pandai menyikapi saja !”.

“Sikap yang seperti apalagi, Wati ?”

“Paling tidak, kita harus tabah menjalani kehidupan  ini, bersama kita menyekolahkan ketiga anak kita hingga sampai perguruan tinggi. Meski kita hanya lulusan SMA dan keluarga kecil yang hidup di desa. Namun anak anak kita jangan sampai seperti kita. Tentang carut marutnya negeri ini kita sikapi dewasa saja, habis perkara !”

“Tambah pandai, kau Wati ?. Siapa yang mengajarimu ?”

“Siapa sih Pak yang mau mengajariku ?, Siapa pula yang mau perduli dengan kehidupan orang desa seperti kita. Namun tekanan hidup dan ketabahan kita bersamalah yang mencetak kita menjadi orang dewasa”.

“Kau ini terlalu idealis Wat, Kamu cuma memikirkan kepentingan diri sendiri. Bila setiap masyarakat Indonesia berpikiran seperti kamu, mana ada demokrasi?, mana ada pembaruan dan kapan kita maju ?”.

“Kamu juga jangan ego, Pak !. Apa hanya laki laki yang boleh berbicara masalah politik saja. Aku bicara seperti ini, karena sebagian besar ibu ibu berpendapat sepertiku.Mereka tidak butuh partai !, mereka tidak butuh ini dan itu! , mereka butuhnya hanya kedamaian”

“Kamu dengar dari mana ?”

“Pak, aku kan pedagang barang kelontong di pasar, aku kenal banyak ibu ibu di sana. Juga saat aku hadir di arisan RT dan dasa wisma ibu ibu PKK “

“Tapi memang kenyataanya demikian, bahwa negeri in telah bobrok, bayak korupsi dan lain sebagainya dan ini kenyataan ?. Apa kamu mengerti ?. Apa ibu ibu temenmu mengerti?”

“Ya ampun Mas, kalau cuma itu anak kecil saja mengerti. Tapi yang penting kita menjadi keluarga yang tidak mudah patah dan menyerah bila keadaan negeri kita sudah seperti ini”

“Itulah kesalahan kira semua, hanya mementingkan keluarganya masing masing?’

“Mas, jangan kamu gampangkan peran masing masing keluarga. Bila masyarakat kita disusun dari keluarga yang baik, tentu masyarakatnyaoun akan baik jua”.

“Kamu memang sok pintar, Negara harus diusung oleh anak bangsanya yang mau berkorban apa aja demi eksistensinya. Bukan diusung oleh anak bangsanya yang hanya cuma memikirkan keluarga masing masing. Inilah hancurnya Negara kita, karena merebaknya hedonisme, bermegah megahan, sehingga nasionalisme menjadi hilang lenyap “. Entah setan mana yang merasuki jiwa laki laki muda ini sehingga dia sekarang mirip anggota partai yang mempertaruhkan segala yang dia miliki demi visi yang dibelanya. Mahendra segera menghentikan makanya, meski nasi yang masih di piring makanya masih banyak tersisa. Mukanya kini merah membara. Sedangkan ketiga anaknya sudah merajut mimpi mimpi indah di tengah angin senja yang dingin dari Gunung Merapi.

Rachmawati istrinya kini hanya tersenyum, diapun tahu bahwa suaminya kini sedang diterjang amarah yang konyol. Dan bagi Rachmawati sikap kekonyolan suaminya itu bukan hal yang serius. Inilah cinta kasih yang menyatu dalam tiap nadi kehidupan mereka, menyatu dengan dinding rumahnya yang masih centang perontang, menyatu dengan atap rumahnya yang hanya tersusun dari asbes, menyatu dengan kebun sayur dan buah serta bunga bunga di halaman depan mereka.

Tanpa ada sapaan dan seberkas senyum Mahendra segera berlalu dari istrinya yang mulai sibuk membersihkan makanan mereka. Mahendra segera menuju peraduanya di kamar tengah. Tidak seperti biasanya dia selalu menyaksikan tayangan acara demi acara televise hingga larut. Apalagi belakangan ini dia sangat setia menyaksikan kejadian pilu saudara saudara dari Kepulauan Mentawai dan Gunung Merapi.

Rachmawati hanya diam membisu, meski hatinya sekarang tersenym geli menyaksikan tingkah polah kekanak kanakan suaminya. Bagi dia sikap suaminya ini hanyalah ego yang belum juga mau surut, meski mereka telah menyatu dalam segala hal hampir 15 tahun lamanya. Dalam hal ini dialah wanita satu satunya yang mampu menyurutkan ego yang konyol ini. Karena pada dasarnya mereka emiliki peraduan yang suci tempat mengurai segala permasalahan, menyatukan silang pendapat antara mereka serta merenanakan apa yang bakal mereka hadapi bersama esok pagi.

***
Pintu kamar tidur di bagian tengah mereka berderit, karena telah aus engsel engselnya dimakan jaman. Rachmawati segera medampingi suaminya yang diam seribu bahasa. Kala sang suami tercinta menolehkan wajah ke arahnya, seberkas senyum wanita desa itu berhasil mencairkan hati Mahendara yang semula sekeras batu karang. Mahendra segera menarik tubuh sang istrinya untuk mendekatkan  tubuhnya, sementara wajah Rachmawati kinipun terbenam di atas dada yang bidang itu. Dengan penuh kemesraan tangan Mahendra tak hentinya mengusap rambut hitam pujaan hatinya itu.

“Tadi kiya ngapain, ya Pak ?” .Suara Rachmawati memecahkan sunyi peraduan mereka.
“Ah…nggak tahu ?”
“Kamu marah sama aku, Pak ?”
“Ya, tadi. Sekarang sudah nggak lagi”

Angin malam mengiringi dua ekor kobra yang saling memagut satu sama lain di atas peraduan yang basah dan hangat. Tidak perduli di luar sana manusia saling menjatuhkan satu sama lain, saling mengusung harta Negara dan saling berebut kekuasaan. Tapi bagi sepasang insane yang sederhana tapi berjiwa matang itu sibuk membenahi peraduan mereka yang tak pernah lekang.

Kembang Kertas


Prayogo kembali duduk termenung di kursi lapuk beranda rumahnya, sementara senja kini menaungi seluruh langit di atas gubug tuanya.      Padinya kini menguning di sawah transmigrasi hasil olahan tangannya sendiri yang masih kokoh. Sementara itu anak-anaknya berada di  dalam rumah, asyik beramai-ramai makan dengan lauk saadanya.
           
Angannya membelit kuat tubuhnya yang  kini mulai digrogoti usia yang menginjak setengah baya,  betapa bahagianya kala dia dan Mawar Susanti, bunga desa Ngemplak Mranggen, Demak bersamanya mencoba menundukan kehidupan dengan bertransmigrasi ke Desa Harapan Baru Lampung 25 tahun  silam. Kala itu anak anak mereka yang masih mungil diajaknya bersama,  guna memberikan penghidupan kepada mereka yang lebih sejuk ketimbang mengadu nasib di kota hanya sebagai tukang tambal ban.
           
Mawar, tiada pernah bersungut wajahnya sedetikpun kala itu menghadapi berbagai cobaan hidup, lantaran cintanya kepada dia dan keempat anaknya. Namun dunia layaknya adalah sebuah perputaran lakon dalam sandiwara, silih bergantinya adegan susah senang, dibawah atau diatas. Demikian juga bahtera rumah tangga Prayogo, yang belum kokoh dan gampang diterjang ombak godaan jaman,
           
Beranda rumahnya sudah kelihatan temaram, pertanda hari sudah malam. Tangisan Windi si bungsu minta digendong lantaran sudah saatnya pergi ke
peraduannya berhasil menyentakan angan Prayogo dari lamunanya. Maka diapun segera memmeluk dan menggendong si bungsi, yang sekali-kali menanyakan ibunya, yang tak kunjung pulang. Sementara anak prayogo lainnya yang telah beranjak dewasa masing-masing mempersiapkan untuk belajar di bawah bimbingan  Bina Pranoto, yang sudah duduk di kelas XI SMK di sekitar areal transmigrasi.
           
Elly sang bungsu sudah merebahkan kepalanya di bahu prayoga yang hitam legam di bakar sinar matahari. Rintihan kerinduan pada ibunya yang kini pergi tanpa kabar, membuat hati prayogo kerap kali tersayat. Lantaran sama sekali dia tidak menduga bahtera ruham tanggany hancur diterjang angin kembara, yang kejam dan berhasil mengusik hati istrinya tercinta untuk meninggalkan dia dan anaknya entah kemana.

Teringat pula kala dia dan Mawar terakhir kali bertemu di temaram senja di beranda rumahnya yang beratap asbes dan berlantai tanah.

            “Sudah 20 tahun kita hidup di desa transmigrasi, ya Pak”
            “Hhm. Kita tidak terasa memang Bu, aku selalu bersyukur, bahwa kita disini memiliki kehidupan yang damai, meski hanya dengan ekonomi pas-pasan. Bila kita masih di Mranggen. Tidak mungkin kita bisa seperti ini”
            “Tapi anak-anak kan tidak harus disini terus. Bina sebentar lagi harus masuk SMA, dan itu kita perlu biaya. Meski kita keluarga ilalang, yang tiada berguna barang sedikitpun, namun aku pengin menyekolahkan Bina ke Jawa untuk kuliah tahun-tahun depan. Pak “
            ‘Bagus juga cita-cita kamu, yah..akupuin berharap begitu. Namun gimana lagi, Bu. Kita hanya petani trans yang tidak punya dana sedikitpun demi pendidikan anak-anak kita”
            “Tapi kita tak mungkin begini terus, Pak !”
            “Maksud kamu bagaimana?”
            “Aku punya rencana untuk ke Jakarta untuk mengadu nasib, guna menyekolahkan Bina. Toh jarak kota Jakarta dengan Kota Bumi.Tapi itu hanya sebatas angan, Pak”
            “Itu tidak menyelesaikan masalah, Rejeki tidak hanya ada di Jakarta. Aku tidak mungkin mengijinkan kamu ke Jakarta. Lebih baik sawah yang sudah aku garap ini separonya dijual ke Susanto”
            “Terus untuk penghidupan mereka bagaimana, Pak ?”
            “Jangan kuatir, tentu nanti ada jalan lain”
            Kedua jantung kedua insan ini terbelenggu dengan sunyinya malam hutan di tepi Kota Bumi. Sementara dinginya angin malam mulai membuat kaku persendian tulang mereka. Maka merekapun tanpa membuang waktu lagi, menuju peraduan mereka, dengan penuh gelora untuk menautkan cinta kasih mereka. Hanya angin malam saja yang menjadi saksi betapa bahagianya kedua insan tersebut, yang sedang berada di pelukan masing-masing dan peluhpun mulai membasahi sekujur tubuh Prayogo. Namun gelora cinta kasih mereka pada malam hari itu rupanya menjadi kisah terakhir dari sisi kehidupan Prayogo.
           
Di awal musim panen yang melimpah itu, Prayogo pagi-pagi sudah bangun hendak mempersiapkan panen dengan dibantu beberapa tetangga. Prayogo tidak menggubris sama sekali ketika Mawar minta ijin ke Pasar Induk, guna belanja keperluan makan para tetangganya itu.
           
Namun drama kehidupan telah berkata lain, terbukti Mawar bersama pria kenalanya entah siapa pergi ke Jawa untuk menempuh hidup yang lebih menjanjikan dengan meninggalkan anak-anaknya yang masih memerlukan cinta kasih Mawar, wanita yang masih kelihatan ayu dan menawan, meski di umur yang hampir berkepala empat. Mawar yang dahulu adalah bunga wewangi yang menyerbaki keharuman di rumah mungil dan sejuk itu. Kini layaknya hanya kembang kertas yang penuh kepalsuan.
           
Tiada sepatah katapun yang bisa dilontarkan Prayoga kala istrinya beberapa hari tidak kelihatan batang hidungnya. Sementara rintihan anak-anaknya terus saja memenuhi rumah reot mereka. Setahap demi setahap Prayogo berhasil kembali menemukan dirinya sendiri selama lima tahun. Ulah mereka berempat yang masih balita dan lucu itu ikut membantu hati pria malang itu untuk menguat kembali.
Pagi ini kembali Prayoga disibukan dengan panen seperti lima tahun yang lalu, Bina dan ke tiga adiknya kini membantu bapak yang malang itu ikut membantu panen padi yang tidak kalah melimpahnya lima tahun yang lalu. Meski panen kali ini tanpa kehadiran ibunya, namun mereka semua sudah melupakan ibunya yang semula hadir penuh kasih.
           
Butir butir padi masih terikat di tangkainya dan kini berada di Lumbung Padi di samping rumah Prayoga, yang masih rame dikunjungi tetangga dan ulah anak-anak mereka yang lucu. Prayoga kini mulai meluruskan kakinya yang mulai terasa kaku dan penat. Pintu yang semua hanya ditutup. Kini terbuka lebar-lebar bersamaan munculnya sosok wanita yang kurus kering, dengan rambut yang kumal dan pandangan mata yang kosong di dalam rongga mata yang cekung.
            ‘Pak, aku Mawar”
            “Mawar, Kau kah Mawar” seru Prayoga yang berdiri setengah tidak percaya.
            “Iya Pak, apa kau lupa, aku yang salah. Pak”
            “Kamu berubah sekarang menjadi kurus, masuklah, aku tak memanggil anak-anak”
            Mawar duduk di kursi bambu ruang tamu mereka, dengan muka masih kusut dan tatapan mata yang kosong, pertandan dia telah menyimpan sesuatu yang menyiksa hatinya.
            “Maafkan aku Mawar anak-anak telah aku coba bangunkan, tetapi mereka memilih tetap tidur. Mereka sudah lupa dengan kamu, kecuali Bina. Itupun tidak mau menemui kamu.”
            “Biar nggak apa-apa, memang ini salah aku, Pak !. Namun kalau boleh aku ingin menggendong Elly”. Prayogopun mencoba membangunkan paksa Elly dan memberikan pada Ibunya. Ellypun meronta dan menjeritketakutan serta menguluekan tangan untuk minta gendong Prayoga.
            ‘Kini kamu tahu bahwa anak-anak telah melupakan kamu, ini semua memang salahmu. Mereka kini sudah terbiasa tanpamu. Akupun sudah melupakan kamu setelah 5 tahun aku berusaha melupakan. Karena hari sudah malam,  kini menginaplah kamu beberapa hari. Setelah itu pulanglah kamu ke Mranggen. Carilah kehidupan kamu sendiri yang membahagiakan kamu, aku hanya petani kecil yang tidak punya apa-apa. Kamu wanita cantik dan masih muda, masih banyak kesempatan lain untuk menggapai kebahagianmu, percuma bila kau kembali ke rumah ini, kamupun tidak akan berbahagia. Mawar, Bina sudah saya suruh menyiapkan kamar untuk istirahatmu”
           
Kini malampun mulai bergayut di bumi Transmigrasi Harapan Baru, Prayogopun kembali ke peraduan dengan nyenyak tidur si bungsu Elly yang berada di pelukakkya.