Minggu, 29 April 2012

Peraduan Milik Kita


Berkali kali Mahendra mendenguskan nafas panjang sambil mengkerutkan alisnya dan terus mengganti beberapa kali  chanel televisinya. Setelah yang dia dapatkan hanya tayangan anarkis yang dilakukan pendemo dari beberapa kalangan. Lengkap dengan penuturan reporternya tentang kerugian harta benda dan tak jarang korban luka luka yang diakibatkan anarkisme itu. Tak urung juga tayangan tentang pertikaian petinggi negeri ini, yang justru ikut mempengaruhi meradangnya rakyat yang telah diliputi oleh berbagai macam kesulitan hidup. Kini ulahnya bertambah tidak dapat dimengerti, kala mulutnya mulai mencaci maki entah di arahkan kemana, setelah sebuah tayangan melaporkan tentang kenaikan harga untuk barang apa saja.

Sementara istrinya sibuk di dapur menanak nasi dan menghangatkan sayur asem dan ikan asin, sebuah menu yang menjadi kesukaan Mahendra dan anak istrinya. Menu sehari hari mereka semua didapatkan hanya dari sayur sayur yang dipetik dari kebun belakang rumah. Namun ikan asinya memang harus dibeli dari pasar, itupun setelah Rakhmawati menjual beberapa telur ayam kampung. Terkadang Mahendra sengaja menyembelih ayam kampungnya, agar anak anaknya tidak bosan dengan menu sayur dari kebon belakang rumah.

Sang istrinyapun hanya tersenyum mendengar cacian suaminya tanpa arah dan tujuan yang jelas. Terkadang pula suaminya bersikap sok piawai dalam beberapa hal. Sehubungan dengan beberapa ulah anak bangsa  yang ada ada saja, yang mampu menghangatkan atmosfer Negara ini dan menampilkan sikap yang tak sepadan dengan budaya  asli masyarakat yang melingkungi mereka.

“Huuuh..negara kita ini ibarat rumah tak jelas menghadap ke mana. Mengapa banyak  masyarakat dan oknum pejabat yang gampang naik pitam “. Tanpa meminta persetujuan dan pedapat istrinya,  berkali kali Mahendra melontarkan sebuah caci maki. Sementara itu istrinya segera menyajikan makan malam mereka semua. Di depan televise mereka bersama sama menikmati hidangan hangat dan sederhana,  namun sama sekali tak pernah mereka keluhkan.

“Bisa bisa Negara kita hanya tinggal nama bila terus terusan tercampak dengan berbagai tindak anarkis !”. Sambil melahap nasi hangat Mahendra terus saja berceloteh mirip jurkam parpol di masa kampanye.

“Ya, biar saja, Pak. Asal kita pandai pandai menjaga sikap , jangan seperti mereka “

“Ya, nggak gitu to, Wat. Mereka seenaknya membuat ulah, sehingga membuat resah wong cilik seprti  kita. Kalau sudah seperti ini  banyak pedagang besar menaikan harga barang barang. Coba yang rugi siapa?, mereka para pemimpin apakah merasakan seperti ini ?”.

“Hmmm….memang repot kalau sudah seperti ini, Pak !. Tapi bagai kita yang penting pandai pandai menyikapi saja !”.

“Sikap yang seperti apalagi, Wati ?”

“Paling tidak, kita harus tabah menjalani kehidupan  ini, bersama kita menyekolahkan ketiga anak kita hingga sampai perguruan tinggi. Meski kita hanya lulusan SMA dan keluarga kecil yang hidup di desa. Namun anak anak kita jangan sampai seperti kita. Tentang carut marutnya negeri ini kita sikapi dewasa saja, habis perkara !”

“Tambah pandai, kau Wati ?. Siapa yang mengajarimu ?”

“Siapa sih Pak yang mau mengajariku ?, Siapa pula yang mau perduli dengan kehidupan orang desa seperti kita. Namun tekanan hidup dan ketabahan kita bersamalah yang mencetak kita menjadi orang dewasa”.

“Kau ini terlalu idealis Wat, Kamu cuma memikirkan kepentingan diri sendiri. Bila setiap masyarakat Indonesia berpikiran seperti kamu, mana ada demokrasi?, mana ada pembaruan dan kapan kita maju ?”.

“Kamu juga jangan ego, Pak !. Apa hanya laki laki yang boleh berbicara masalah politik saja. Aku bicara seperti ini, karena sebagian besar ibu ibu berpendapat sepertiku.Mereka tidak butuh partai !, mereka tidak butuh ini dan itu! , mereka butuhnya hanya kedamaian”

“Kamu dengar dari mana ?”

“Pak, aku kan pedagang barang kelontong di pasar, aku kenal banyak ibu ibu di sana. Juga saat aku hadir di arisan RT dan dasa wisma ibu ibu PKK “

“Tapi memang kenyataanya demikian, bahwa negeri in telah bobrok, bayak korupsi dan lain sebagainya dan ini kenyataan ?. Apa kamu mengerti ?. Apa ibu ibu temenmu mengerti?”

“Ya ampun Mas, kalau cuma itu anak kecil saja mengerti. Tapi yang penting kita menjadi keluarga yang tidak mudah patah dan menyerah bila keadaan negeri kita sudah seperti ini”

“Itulah kesalahan kira semua, hanya mementingkan keluarganya masing masing?’

“Mas, jangan kamu gampangkan peran masing masing keluarga. Bila masyarakat kita disusun dari keluarga yang baik, tentu masyarakatnyaoun akan baik jua”.

“Kamu memang sok pintar, Negara harus diusung oleh anak bangsanya yang mau berkorban apa aja demi eksistensinya. Bukan diusung oleh anak bangsanya yang hanya cuma memikirkan keluarga masing masing. Inilah hancurnya Negara kita, karena merebaknya hedonisme, bermegah megahan, sehingga nasionalisme menjadi hilang lenyap “. Entah setan mana yang merasuki jiwa laki laki muda ini sehingga dia sekarang mirip anggota partai yang mempertaruhkan segala yang dia miliki demi visi yang dibelanya. Mahendra segera menghentikan makanya, meski nasi yang masih di piring makanya masih banyak tersisa. Mukanya kini merah membara. Sedangkan ketiga anaknya sudah merajut mimpi mimpi indah di tengah angin senja yang dingin dari Gunung Merapi.

Rachmawati istrinya kini hanya tersenyum, diapun tahu bahwa suaminya kini sedang diterjang amarah yang konyol. Dan bagi Rachmawati sikap kekonyolan suaminya itu bukan hal yang serius. Inilah cinta kasih yang menyatu dalam tiap nadi kehidupan mereka, menyatu dengan dinding rumahnya yang masih centang perontang, menyatu dengan atap rumahnya yang hanya tersusun dari asbes, menyatu dengan kebun sayur dan buah serta bunga bunga di halaman depan mereka.

Tanpa ada sapaan dan seberkas senyum Mahendra segera berlalu dari istrinya yang mulai sibuk membersihkan makanan mereka. Mahendra segera menuju peraduanya di kamar tengah. Tidak seperti biasanya dia selalu menyaksikan tayangan acara demi acara televise hingga larut. Apalagi belakangan ini dia sangat setia menyaksikan kejadian pilu saudara saudara dari Kepulauan Mentawai dan Gunung Merapi.

Rachmawati hanya diam membisu, meski hatinya sekarang tersenym geli menyaksikan tingkah polah kekanak kanakan suaminya. Bagi dia sikap suaminya ini hanyalah ego yang belum juga mau surut, meski mereka telah menyatu dalam segala hal hampir 15 tahun lamanya. Dalam hal ini dialah wanita satu satunya yang mampu menyurutkan ego yang konyol ini. Karena pada dasarnya mereka emiliki peraduan yang suci tempat mengurai segala permasalahan, menyatukan silang pendapat antara mereka serta merenanakan apa yang bakal mereka hadapi bersama esok pagi.

***
Pintu kamar tidur di bagian tengah mereka berderit, karena telah aus engsel engselnya dimakan jaman. Rachmawati segera medampingi suaminya yang diam seribu bahasa. Kala sang suami tercinta menolehkan wajah ke arahnya, seberkas senyum wanita desa itu berhasil mencairkan hati Mahendara yang semula sekeras batu karang. Mahendra segera menarik tubuh sang istrinya untuk mendekatkan  tubuhnya, sementara wajah Rachmawati kinipun terbenam di atas dada yang bidang itu. Dengan penuh kemesraan tangan Mahendra tak hentinya mengusap rambut hitam pujaan hatinya itu.

“Tadi kiya ngapain, ya Pak ?” .Suara Rachmawati memecahkan sunyi peraduan mereka.
“Ah…nggak tahu ?”
“Kamu marah sama aku, Pak ?”
“Ya, tadi. Sekarang sudah nggak lagi”

Angin malam mengiringi dua ekor kobra yang saling memagut satu sama lain di atas peraduan yang basah dan hangat. Tidak perduli di luar sana manusia saling menjatuhkan satu sama lain, saling mengusung harta Negara dan saling berebut kekuasaan. Tapi bagi sepasang insane yang sederhana tapi berjiwa matang itu sibuk membenahi peraduan mereka yang tak pernah lekang.

Kembang Kertas


Prayogo kembali duduk termenung di kursi lapuk beranda rumahnya, sementara senja kini menaungi seluruh langit di atas gubug tuanya.      Padinya kini menguning di sawah transmigrasi hasil olahan tangannya sendiri yang masih kokoh. Sementara itu anak-anaknya berada di  dalam rumah, asyik beramai-ramai makan dengan lauk saadanya.
           
Angannya membelit kuat tubuhnya yang  kini mulai digrogoti usia yang menginjak setengah baya,  betapa bahagianya kala dia dan Mawar Susanti, bunga desa Ngemplak Mranggen, Demak bersamanya mencoba menundukan kehidupan dengan bertransmigrasi ke Desa Harapan Baru Lampung 25 tahun  silam. Kala itu anak anak mereka yang masih mungil diajaknya bersama,  guna memberikan penghidupan kepada mereka yang lebih sejuk ketimbang mengadu nasib di kota hanya sebagai tukang tambal ban.
           
Mawar, tiada pernah bersungut wajahnya sedetikpun kala itu menghadapi berbagai cobaan hidup, lantaran cintanya kepada dia dan keempat anaknya. Namun dunia layaknya adalah sebuah perputaran lakon dalam sandiwara, silih bergantinya adegan susah senang, dibawah atau diatas. Demikian juga bahtera rumah tangga Prayogo, yang belum kokoh dan gampang diterjang ombak godaan jaman,
           
Beranda rumahnya sudah kelihatan temaram, pertanda hari sudah malam. Tangisan Windi si bungsu minta digendong lantaran sudah saatnya pergi ke
peraduannya berhasil menyentakan angan Prayogo dari lamunanya. Maka diapun segera memmeluk dan menggendong si bungsi, yang sekali-kali menanyakan ibunya, yang tak kunjung pulang. Sementara anak prayogo lainnya yang telah beranjak dewasa masing-masing mempersiapkan untuk belajar di bawah bimbingan  Bina Pranoto, yang sudah duduk di kelas XI SMK di sekitar areal transmigrasi.
           
Elly sang bungsu sudah merebahkan kepalanya di bahu prayoga yang hitam legam di bakar sinar matahari. Rintihan kerinduan pada ibunya yang kini pergi tanpa kabar, membuat hati prayogo kerap kali tersayat. Lantaran sama sekali dia tidak menduga bahtera ruham tanggany hancur diterjang angin kembara, yang kejam dan berhasil mengusik hati istrinya tercinta untuk meninggalkan dia dan anaknya entah kemana.

Teringat pula kala dia dan Mawar terakhir kali bertemu di temaram senja di beranda rumahnya yang beratap asbes dan berlantai tanah.

            “Sudah 20 tahun kita hidup di desa transmigrasi, ya Pak”
            “Hhm. Kita tidak terasa memang Bu, aku selalu bersyukur, bahwa kita disini memiliki kehidupan yang damai, meski hanya dengan ekonomi pas-pasan. Bila kita masih di Mranggen. Tidak mungkin kita bisa seperti ini”
            “Tapi anak-anak kan tidak harus disini terus. Bina sebentar lagi harus masuk SMA, dan itu kita perlu biaya. Meski kita keluarga ilalang, yang tiada berguna barang sedikitpun, namun aku pengin menyekolahkan Bina ke Jawa untuk kuliah tahun-tahun depan. Pak “
            ‘Bagus juga cita-cita kamu, yah..akupuin berharap begitu. Namun gimana lagi, Bu. Kita hanya petani trans yang tidak punya dana sedikitpun demi pendidikan anak-anak kita”
            “Tapi kita tak mungkin begini terus, Pak !”
            “Maksud kamu bagaimana?”
            “Aku punya rencana untuk ke Jakarta untuk mengadu nasib, guna menyekolahkan Bina. Toh jarak kota Jakarta dengan Kota Bumi.Tapi itu hanya sebatas angan, Pak”
            “Itu tidak menyelesaikan masalah, Rejeki tidak hanya ada di Jakarta. Aku tidak mungkin mengijinkan kamu ke Jakarta. Lebih baik sawah yang sudah aku garap ini separonya dijual ke Susanto”
            “Terus untuk penghidupan mereka bagaimana, Pak ?”
            “Jangan kuatir, tentu nanti ada jalan lain”
            Kedua jantung kedua insan ini terbelenggu dengan sunyinya malam hutan di tepi Kota Bumi. Sementara dinginya angin malam mulai membuat kaku persendian tulang mereka. Maka merekapun tanpa membuang waktu lagi, menuju peraduan mereka, dengan penuh gelora untuk menautkan cinta kasih mereka. Hanya angin malam saja yang menjadi saksi betapa bahagianya kedua insan tersebut, yang sedang berada di pelukan masing-masing dan peluhpun mulai membasahi sekujur tubuh Prayogo. Namun gelora cinta kasih mereka pada malam hari itu rupanya menjadi kisah terakhir dari sisi kehidupan Prayogo.
           
Di awal musim panen yang melimpah itu, Prayogo pagi-pagi sudah bangun hendak mempersiapkan panen dengan dibantu beberapa tetangga. Prayogo tidak menggubris sama sekali ketika Mawar minta ijin ke Pasar Induk, guna belanja keperluan makan para tetangganya itu.
           
Namun drama kehidupan telah berkata lain, terbukti Mawar bersama pria kenalanya entah siapa pergi ke Jawa untuk menempuh hidup yang lebih menjanjikan dengan meninggalkan anak-anaknya yang masih memerlukan cinta kasih Mawar, wanita yang masih kelihatan ayu dan menawan, meski di umur yang hampir berkepala empat. Mawar yang dahulu adalah bunga wewangi yang menyerbaki keharuman di rumah mungil dan sejuk itu. Kini layaknya hanya kembang kertas yang penuh kepalsuan.
           
Tiada sepatah katapun yang bisa dilontarkan Prayoga kala istrinya beberapa hari tidak kelihatan batang hidungnya. Sementara rintihan anak-anaknya terus saja memenuhi rumah reot mereka. Setahap demi setahap Prayogo berhasil kembali menemukan dirinya sendiri selama lima tahun. Ulah mereka berempat yang masih balita dan lucu itu ikut membantu hati pria malang itu untuk menguat kembali.
Pagi ini kembali Prayoga disibukan dengan panen seperti lima tahun yang lalu, Bina dan ke tiga adiknya kini membantu bapak yang malang itu ikut membantu panen padi yang tidak kalah melimpahnya lima tahun yang lalu. Meski panen kali ini tanpa kehadiran ibunya, namun mereka semua sudah melupakan ibunya yang semula hadir penuh kasih.
           
Butir butir padi masih terikat di tangkainya dan kini berada di Lumbung Padi di samping rumah Prayoga, yang masih rame dikunjungi tetangga dan ulah anak-anak mereka yang lucu. Prayoga kini mulai meluruskan kakinya yang mulai terasa kaku dan penat. Pintu yang semua hanya ditutup. Kini terbuka lebar-lebar bersamaan munculnya sosok wanita yang kurus kering, dengan rambut yang kumal dan pandangan mata yang kosong di dalam rongga mata yang cekung.
            ‘Pak, aku Mawar”
            “Mawar, Kau kah Mawar” seru Prayoga yang berdiri setengah tidak percaya.
            “Iya Pak, apa kau lupa, aku yang salah. Pak”
            “Kamu berubah sekarang menjadi kurus, masuklah, aku tak memanggil anak-anak”
            Mawar duduk di kursi bambu ruang tamu mereka, dengan muka masih kusut dan tatapan mata yang kosong, pertandan dia telah menyimpan sesuatu yang menyiksa hatinya.
            “Maafkan aku Mawar anak-anak telah aku coba bangunkan, tetapi mereka memilih tetap tidur. Mereka sudah lupa dengan kamu, kecuali Bina. Itupun tidak mau menemui kamu.”
            “Biar nggak apa-apa, memang ini salah aku, Pak !. Namun kalau boleh aku ingin menggendong Elly”. Prayogopun mencoba membangunkan paksa Elly dan memberikan pada Ibunya. Ellypun meronta dan menjeritketakutan serta menguluekan tangan untuk minta gendong Prayoga.
            ‘Kini kamu tahu bahwa anak-anak telah melupakan kamu, ini semua memang salahmu. Mereka kini sudah terbiasa tanpamu. Akupun sudah melupakan kamu setelah 5 tahun aku berusaha melupakan. Karena hari sudah malam,  kini menginaplah kamu beberapa hari. Setelah itu pulanglah kamu ke Mranggen. Carilah kehidupan kamu sendiri yang membahagiakan kamu, aku hanya petani kecil yang tidak punya apa-apa. Kamu wanita cantik dan masih muda, masih banyak kesempatan lain untuk menggapai kebahagianmu, percuma bila kau kembali ke rumah ini, kamupun tidak akan berbahagia. Mawar, Bina sudah saya suruh menyiapkan kamar untuk istirahatmu”
           
Kini malampun mulai bergayut di bumi Transmigrasi Harapan Baru, Prayogopun kembali ke peraduan dengan nyenyak tidur si bungsu Elly yang berada di pelukakkya.

Kamis, 26 April 2012

Doa Malam


sekeping hidup dalam buai panjang
pernah singgah,  menepikan seraut  episode menakutkan
di tengah makian debu debu menyesak dada
tak urung,   nyanyian duka
telah disemai di puncak yang bukan milikmu
meski bibir gincu, menyapa hari hari yang asing
tak satupun nama tertanam di pepohonan
yang kekar dan sejuk

merah jambu awan senja
bertepi putih membiru tepi langit
telah menyongsong wajah yang akrab dengan
lipatan jaman…guratan hidup mencumbu nafas
kala terlihat lelah kedua mata kita.

kau mencoba mengukir sisi langit
yang membentuk barisan awan…bertanam mekar sari
seberkas himpitkan  tajam  sebagian langit
meluruhkanmu, …..kembali sepi
dari indahnya wajah bulan di bumi dongeng
hanya tinggal, bahtera yang mengusung
serpihan layar menantang angin buritan

lebih baik kau tawarkan mawar jingga
dalam sebagian malam
bertabur sayap malaikat dari rajutan langit
kemana lagi akan kau cincang hidup ini
bukankah potongan doa lebih indah
dari jarum waktu yang kau tinggalkan……(Semarang, 9 Februari 2012)


1.      Entahlah Meski di Mana Aku Berada

hanya bentangan kuning padi berseri,
terbawa liarnya angin memburu seribu makna
kadang menengadahkan bulirnya ke mentari
berkuning rapat rambut sutra
atau meliukan rindu ke biru gunung menawan
menata kembali nafas yang terpagut merona tepi jaman
entahlah hanya tangkainya yang menggenggam makna
dari dahinya yang berkerut
dan rongga matanya yang dalam membisu.

atau……….
biarkan saja awan jingga dalam angkuhnya
menerpakan sisi cakrawala barat
tempat merpati meluruskan sayap
aku terselip di dalamnya ikut menggetarkan
makna – makna yang meluruh di gerimis senja

aku kencangkan genggam jemari
yang tergolek lesu kalau seribu cermin ego menghimpitku
aku kabarkan dalam seloroh prosa pujangga
namun hanya bait yang menunggu merekahnya mawar jingga
beruntai gerigi tajam menghanyutkan sisi sendiku
aku  kembali dalam canda manja alam
atau kepak kenari yang melambungkanku
menuju batas pandang yang samar
aku tak tahu….

sempat pula sang camar
membenah pantai dari rerimbunan durjana
yang menghitami, jantungnya
namun tanpa mata nanar dan syak wasangka
sang camarpun hinggap di biru langit
dengan wajah menunduk, memunguti  bentangan harap
aku dalam sepi….

masih ada sisa bait, yang terpendam pada
dalamnya kalbu, hanya makna yang aku sendiri
lelah menjinjing di balik wajah yang mencibirkan kelu
mari kita kembali untuk mengetam padi
meluruskan pematang sawah kita
agar kuning padi menyeringai dalam seloroh mentari
hingga belalang melipatkan sayapnya
kita dalam damai
agar tiada lagi sepi….sebuah gambar alam……(Semarang, 8 Pebruari 2012)



2.       Semuanya Kan Usai

lantaran apa kita pinang embun pagi
yang renyah menyelerohkan cakrawala di balik gunung
hingga kita terpikat pada lesung pipit
dan gemulai Gambir Anom sang pesinden penuh
cahaya malam…dan lampu jaman

tulang-tulang iga kita tlah merapat
dijemput maghligai susun tujuh empat penjuru langit
gendang dan kecapi tak mampu lagi
menarikan dedaunan palma di ujung rumah kita
apalagi lagi  dolanan anak anak  yang bertembang
hanya seberkas kenangan dalam rindu hati
bersama kekasih kita

lekaslah mencanda jantung kita masing-masing
agar nyaman tidur siang kita…………(Semarang, 8 Pebruari 2012)

3.      Senyum

dalam senyum sang lelaki tak lagi memincingkan mata
bila rerimbunan pohon tlah menyejuk jiwa
semua gambaran alam..melapangkan dadanya
 lembayung senja bertanam bunga melati
lelaki itupun….entah milik siapa……(Semarang, 9 Februari 2012)

Bilah Hidup Lelaki Tua


Hanya tinggal mengandalkan ke dua kaki yang terbungkus keriputnya  kulit, yang melegam karena terbakar matahari. Terkadang kedua kakinya itupun gemetar menapaki pematang sawahnya yang tidak seberapa luas. Namun Suto tidak pernah merasakan adanya sebuah perpisahan. Meski kehadiran istrinya beberapa puluh tahun mendampingi dirinya hanya tinggal kenangan. Setelah semua kepengapan hidup dan kesengsaraan yang mendera mereka telah cukup.
Rupanya Tuhanpun memilih Suminah untuk segera menghuni langit dengan taman bunga warna warni, ketimbang harus menghuni dunia yang penuh tipu daya. Suminahpun meninggalkan Suto dengan tenang, karena Suminahpun tidak mampu melawan kodrat yang digariskan oleh Yang Diatas. Apalagi diapun tahu bahwa suaminya adalah laki-laki yang tangguh, terbukti dari seluruh hidup mereka, hanya kesengsaraan dan kemiskinan yang mengakrabinya.
            “Aku sakit, Pak !” Demikian Suminah mengeluh dihadapan suaminya, pada suatu malam. Setelah seharian mereka di sawah.
            “Tidurlah, besok biar aku saja yang kesawah. Kamu tidak usah membantu”
            “Ah Cuma masuk angin, besok juga sembuh”
            “Kamu sudah cukup umur, Bu !. Jangan memaksa diri”
            “Tapi kalau di rumah juga mau apa ?. Aku senang mbantu kamu, Pak !. Aku juga tidak sampai hati sama kamu Pak. Aku lihat kamu sebenarnya sudah tidak kuat lagi ke sawah. Pak. Duh Gusti kemana perginya Yono dan Noto. Sudah bertahun-tahun belum pulang juga”
            “Sudahlah, jangan mengungkit-ngungkit mereka lagi Bu !. Nanti kamu tambah sakit. Kita tidak punya biaya untuk ke rumah sakit lho Bu !. Jaga kesehatanmu !”
            “Aku seorang ibu Pak, aku yang melahirkan mereka berdua. Dari kecil aku asuh, setelah dewasa entah kerja di mana. Mereka berdua lupa dengan kita berdua, yang sudah renta, Ya Pak ?”.
            “Jangan kuatir, Bu !. Tidak lama lagi mereka pasti pulang. Mereka tidak lupa dengan kita Bu, aku  yakin. Hanya saja mereka tentunya belum mendapatkan kehidupan yang layak”
            Suminah tidak menjawab lagi, namun tatapan matanya tetap kosong, rasa rindu kepada dua anaknya kian menjadi-jadi saban hari. Apalagi bila mendengar teman sekampung Yono dan Noto telah berbahagia dengan istri dan anak anaknya. Namun Suminah adalah wanita yang telah biasa mengalami berbagai macam goncangan hidup. Namun entah mengapa rasa rindu kepada anaknya, beberapa minggu ini kian tak karuan.
            Baik Suminah sendiri, apalagi Suto adalah manusia biasa yang tidak tahu kodrat dan iradat dari Tuhan Yang Kuasa kepada hambanya. Rupanya rasa rindunya itu telah meluruhkan ketegaran wanita petani yang hidup di desa, Suminah kinipun hanya berbaring ranjang lapuknya dan sebuah kekuatan diluar kasat mata telah membius jantung dan paru. Sehingga Suminahpun kini hanya terbujur dingin.
            Hanya linangan air mata Suto saja yang mengiringi kepergian belahan jiwa yang selama 30 tahun bersamanya mengarungi dunia yang tak pernah menjadi sahabat mereka. Rasa penyesalan yang dalam telah menyelimuti ruang hati Suto, mengapa dia tak mampu mempertemukan istrinya dan kedua anaknya. Namun kala itu kemana dia akan mencari kedua anaknya. Disamping itu dia dan istrinya hanyalah sepasang manusia yang sudah uzur, yang tidak mungkin berpetualang dari kota ke kota mencari mereka. Karena mereka berdua hanyalah ranting ranting yang kering dan rapuh.
            Suto kini sudah tak mungkin lagi terus larut dalam bayangan Suminah, karena dia kembali disibukan dengan panen. Tangan dan kaki yang keriput itu masih saja bersemangat untuk menuai sebuah kehidupan walau hanya secercah hinggap pada awan jingga di ufuk barat,  apalagi tanpa bantuan Suminah istrinya. Tak khayal lagi kini rasa rindu kepada semua keluarganya menjadi kental. Namun bagaimana lagi, bila ranting kering yang sudah rapuh, hanya menunggu jatuh ke tanah dihempas angin kehidupan.
            Perjuangan melawan ganasnya penghidupan membuat mereka saling berpisah satu sama lain. Kedua anaknyapun memilih meninggalkan desa itu lantaran sudah tidak memiliki harapan lagi. Yono putra sulung mereka bergabung dengan rekan satu desa yang berniat mengadu nasib ke Lampung untuk bertranmigrasi. Sementara itu Noto bertekad merantau ke Malaysia dan berjanji untuk sering menengok mereka beberapa tahun sekali. Namun nyatanya mereka hanya meninggalkan sebuah harapan dan kerinduan untuk sepasang ranting yang kering yang ditengah terik musim kemarau.
Harapan tinggal harapan, Sutopun hanya mampu merenungi kepergian semua harta miliknya yang tiada pernah tahu berapa nilainya. Apalagi semenjak kepergian Suminah, Suto telah kehilangan seisi dunia ini. Malampun bertambah larut, langit langit kamarnya yang kumuh dan berdebu kini menjadi saksi. Dipegangnya kata hatinya yang mampu membesarkan dirinya, maka diapun tidak mau mendengarkan lagi hati kecilnya,
Suto kin terlelap dalam sebuah mimpi panjang, ketika dia dan kedua anaknya bermain di tengah sawahnya yang mongering karena kemarau menerpanya. ,Mereka bertiga berkejaran dan melepas tawa riang hingga terdengar dari tiap penjuru padang tersebut. Mereka bermain layang-layang, menangkap kerbau, mencari belalang hingga datanglah Suminah yang berpakaian serba gemerlap, bersulap benang sorga dan semerbak wangi bunga sorgapun merebak memenuhi hidung Suto. Suto tak mampu menolak Suminah yang menjulurkan tanganya untuk mengajak pergi ke penjuru langit. Sementara kedua anaknyapun hanya melambaikan kedua tangannya dengan senyum bahagia. Dan heninglah peraduan Suto.